Angin dingin menerobos kisi-kisi jendela dan membelai tubuhku yang sedang tafakur diatas sajadah. Pagi masih begitu hening ketika aku sempurnakan doa sholat tahajud. Tak terasa air mata menetes membasahi pipi. Akhir-akhir ini sholat tahajud seolah menjadi pelipur lara. Dalam sholat tahajud itu, aku merasakan begitu dekat, karena dapat berkomunikasi secara langsung dengan Sang Pencipta, untuk menumpahkan segala rasa yang terpendam dan begitu menyesakkan dada. Sudah beberapa bulan terakhir berbagai permasalahan keluarga menderaku dan kurasakan begitu menyiksa.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul empat pagi, ketika aku beranjak dari sajadah kesayanganku dan menyudahi doa panjang yang selalu kupanjatkan sambil berurai air mata. Air mata bahagia usai bercengkerama dengan Sang Khaliq. Sehabis sholat tahajud, aku tidak langsung tidur. Sambil menunggu sholat subuh, aku mulai membuka-buka beberapa buku psikotes yang beberapa waktu lalu sengaja kubeli di Gramedia Depok. Buku-buku itu masih berserakan di kasur. Semalam aku merencanakan untuk belajar. Tetapi apalah daya, badan yang sudah letih setelah seharian bekerja ternyata tidak mau diajak berkompromi.
Sejak menamatkan kuliah di salah satu Universitas negeri terkemuka di Kota Bogor, pada awalnya aku bekerja sebagai salah seorang supervisor di perusahaan eksportir ikan tuna di Pulau Dewata. Pekerjaan itu aku jalani sekitar dua tahun. Namun karena aku merasa pekerjaan itu tidak cocok dengan jiwaku, maka aku tinggalkan dan mulai bekerja di sebuah perusahaan konsultan Jepang yaitu Pacific Consultant International (PCI). Di sana aku juga bertahan kurang lebih sekitar dua tahun sebelum akhirnya aku bekerja di perusahaan konsultan yang sekarang.
Sebagai seorang profesional yang berkecimpung dalam bidang riset dan banyak bergulat dengan berbagai penelitian, membuat pekerjaanku seringkali harus dibawa ke rumah untuk diselesaikan. Apalagi kalau deadline laporan sudah mendesak, maka tidak ada cara lain selain segera menyelesaikannya, meskipun harus dengan bekerja lembur. Itulah resiko pekerjaan yang biasa dihadapi oleh seorang konsultan seperti diriku. Dan aku sudah memahami betul resiko pekerjaan itu.
Hari ini, pekerjaan di kantor juga cukup menumpuk. Biasanya aku selalu membawa pulang pekerjaan untuk diselesaikan di rumah. Aku memang mempunyai kebiasaan untuk menyelesaikan pekerjaan setelah sholat tahajud. Sambil menunggu waktu subuh tiba, aku seringkali memanfaatkan waktu yang berharga tersebut untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih tertunda. Tetapi hari ini, aku sengaja tidak membawa pekerjaan ke rumah. Aku harus mempersiapkan ujian untuk besok.
Waktu terus bergulir tanpa mempedulikan diriku yang sedang sibuk membuka-buka dan mencoba memahami berbagai soal yang ada. Dalam kondisi yang semakin terdesak, aku menggunakan metode belajar cepat, yaitu hanya membuka-buka halaman demi halaman setiap buku untuk melihat-lihat contoh soal yang ada di masing-masing buku. Setelah adzan subuh berkumandang, akupun pasrah. Aku hanya berusaha meyakinkan diri pasti bisa melalui test nanti.
Jakarta, Desember 2009
PDA
(Untuk dapat membaca secara lengkap Novel ini dapat menghubungi Penulis novel di: pujidwi@yahoo.com)
Blog ini merupakan catatan-catatan kecil perjalanan hidupku selama ini.....bagai jejak-jejak langkah kaki yang takan pernah terhapus.......
Tuesday, July 13, 2010
Novel Kemilau Permata Cintaku
Labels:
novel
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment